Cerita Lengkap KKN di Desa Penari SimpleMan

ilustrasi cover cerita KKN di Desa Penari
ilustrasi cover cerita KKN di Desa Penari

kurang lebih setelah 2 jam,
mencari kesana kemari dan setelah mendapatkanya, mereka langsung cepat kembali.

Wahyu berhenti di pom bensin, ia harus mengembalikan motornya dalam keadaan bensin full, etika ketika meminjam barang orang lain.

jam sudah menunjukkan pukul 4, sudah terlalu sore, sejenak ia melihat Widya dari jauh, ia berhenti tepat di samping penjual cilok, ketika Wahyu sampai di sana, ia membeli beberapa cilok, untuk Widya dan dirinya sendiri, saat itulah, di penjual cilok, melihatnya seperti ingin menyampaikan sesuatu.
“Mas nya pendatang?” kata orang asing itu.

“mboten pak” “kulo KKN ten mriki” (tidak pak, saya hanya KKN di sini)

“tetep ae, wong joboh to” (tetap saja, orang luar kan?) kata di penjual, masih melihat Widya dan Wahyu bergantian.

“nek oleh takon, masnya sama mbaknya KKN dimana?”

Wahyu menceritakan semuanya, termasuk tempat KKN nya, saat itu juga terlihat jelas sekali perubahan wajah di penjual.

“Loh, sampeyan berarti mari iki liwat Alas D*********??” (berarti sebentar lagi anda akan lewat di hutan **********??)

“nggih pak” (iya pak)
“loh loh, halah dalah” “wes yangmene mas, opo ra isok mene ae mas, sampeyan golek penginapan ae, soale nek jam yangmene, jarang onok sing liwat” (sudah jam segini mas, apa gak bisa besok saja mas, cari saja penginapan, soalnya jam segini sudah jarang ada yang lewat) kata si bapak

“mboten pak, kulo bablas mawon” (tidak pak, saya lanjut saja) kata Wahyu,

“ngeten mas, isok kulo nyuwun waktu’ne sampeyan??” (gini mas, bisa saya minta waktunya sebentar)

si penjual cilok, tiba-tiba mengatakan hal itu dengan wajah tegang.
“nggih pak” kata Wahyu.

Widya yang sedari tadi memilih diam, hanya mendengarkan saja saat penjual cilok itu menceritakan apa yang harus mereka lakukan saat masuk ke Alas ***********

“ngeten mas” (begini mas) “engken, bade sampun mlebet nang Alas’e sampeyan mlaku ae teros”
(nanti setelah kalian sampai dan masuk ke jalanan hutanya, jalan saja ya terus)

“ora usah mandek, utowo ngeladeni opo ae, ngerti ya mas”(gak usah berhenti, apalagi mengurusi hal apapun, sampai sini paham ya mas)

“ojok lali, moco dungo’e sing katah”(jangan lupa doanya yang banyak)
(sing paling penting, nek sampeyan krungu suoro ra onok wujud’e, tetep lanjut, bade sampeyan sampe di gawe ciloko, nek isok lanjut, lanjut ae, ra usah di urus mas, sampeyan percoyo ae, dungo nggih” (yang paling penting, jika kalian dengar suara tanpa wujud, tetap lanjut saja)
(jika sampai kalian di bikin celaka, lalu kalian masih bisa melanjutkan, lanjutkan saja, jangan pernah berhenti di sana, yang penting tidak usah di perdulikan, kalian percaya saja, doanya juga utamakan)
Widya tidak pernah mendengar ada orang yang sampai bercerita dengan mimik wajah yang tegang, Bahkan bibirnya gemetar saat menceritakan.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait