Asal Usul Sumur Gemuling Desa Kuripan, Kecamatan Kesugihan

cilacap info featured
cilacap info featured

“Alangkah berat beban yang engkau emban wahai pemuda. Keris itu berada tidak jauh dari tempat ini. Namun, untuk mendapatkan keris itu kamu harus menghadapi berbagai cobaan dan hambatan yang sekiranya akan dapat merenggut nyawamu,” ujar sang Kiai. “Alangkah bahagia hati saya mendengar kalau keberadaan benda pusaka itu tidak jauh dari tempat ini. Apa pun risikonya harus saya ambil Kiai demi terlaksananya tugas yang dipercayakan ke saya oleh Sultan Demak,” jawab Arya Jabat.

“Baiklah kalau itu sudah menjadi tekat dan keputusanmu. Aku tidak dapat memberikan secara jelas nama wilayah tempat pusaka itu berada. Namun, kamu harus melanjutkan perjalananmu ke arah barat. Setelah lebih kurang satu atau dua minggu perjalanan, kamu akan menemui sebuah desa yang sedang dilanda malapetaka, musim kemarau yang panjang menyebabkan desa itu mengalami paceklik. Nah, disitulah keris pusaka itu berada,” ujar Kiai Klapa Wuni. “Terima kasih Kiai atas bantuan dan informasi yang Kiai berikan kepada saya. Malam ini juga saya akan melanjutkan perjalanan sesuai dengan petunjuk Kiai,” jawab Arya Jabat.

Setelah berpamitan kepada sahabatnya dan Kiai Klapa Wuni, Arya Jabat melanjutkan perjalanannya untuk menemukan Keris Tirta Mukti. Hari silih berganti ia lalui hingga pada suatu hari setelah menempuh satu minggu perjalanan sampailah Arya Jabat di sebuah desa yang memiliki ciri-ciri seperti yang diucapkan oleh Kiai Klapa Wuni. Arya Jabat melihat pemandangan yang sangat menyedihkan akibat kemarau panjang yang dialami oleh desa tersebut.

Sambil memerhatikan keadaan sekeliling, Arya Jabat bergumam, “Astaghafi rullah. Benar apa yang dikatakan Kiai Klapa Wuni, desa ini benar-benar kekeringan. Persawahan tak terurus, ternak kurus-kurus Bahkan banyak yang mati kelaparan. Apa sebenarnya yang telah menimpa desa ini sehingga keadaannya sangat mengerikan seperti ini?”

Arya Jabat mempercepat langkahnya agar cepat sampai di pusat desa. Dalam waktu sekian menit sampailah dia di pusat desa. Keterkejutannya semakin bertambah ketika ia memperhatian keadaan sekitarnya, yang tidak jauh berbeda dengan keadaan luar desa. Tidak ada satu tanaman pun yang memiliki daun. Desa ini telah dilanda kemarau yang hebat. Banyak ternak yang ia jumpai dalam keadaan kurus kering. Jalan desa banyak yang retak-retak karena tidak mampu menahan terik matahari. Parit-parit pun kering kerontang.

“Ki Sanak, apa yang terjadi dengan desa ini?” tanya Arya Jabat pada salah satu penduduk yang kondisinya sangat mengenaskan. “Semua ini ulah Eyang Arjo Kusumo. Dia telah menjatuhkan kutukan ke desa ini karena penduduk sudah tidak mau memberikan tumbal kepadanya,” jawab penduduk desa. “Tumbal…? Maksud Ki Sanak tumbal apa?” tanya Arya Jabat dalam kebingungan yang semakin menghinggapinya.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait