Satya kelima, Lemah cae jeung saeusina alam ieu teh getih jeung nyawa nadika anu kudu dipusti-pusti jeung diagungkeun artinya ‘raja harus mencintai, menghargai, serta merawat tanah airnya sendiri’.
Setelah menjasi raja, Gagak Ngampar segera membangun keraja-annya. Kerajaan yang semula hanya memiliki rakyat pengawalnya saja sekarang sudah mulai berkembang. Orang-orang dari sekitar Dayeuhluhur banyak yang datang dan akhirnya bermukim disitu.
Raja pada saat itu masih lajang sehingga ia bermaksud mencari istri sebagai pendamping hidupnya. Pada suatu waktu Prabu Gagak Ngampar sedang berburu di hutan. Prabu Gagak kehabisan perbekalan karena direbut kawanan monyet. Karena keasyikan berburu, ia juga terpisah dari pengawalnya. Ia memutuskan beristirahat di bawah po-hon. Selagi beristirahat, bertemulah ia dengan seorang gadis cantik. Sang Prabu menyapa gadis itu. Ia heran mengapa gadis itu berada di hutan seorang diri karena ia tidak melihat ayah si gadis.
“Kamu siapa dan sedang apa berada di hutan sendirian?” tanya Prabu Gagak Ngampar.
Gadis desa itu pun menjawab, “Saya sedang membantu ayah saya mencari kayu. Saya tidak sendiri, ayah saya di sebelah sana.”
“Oh, begitu,” Prabu Gagak Ngampar agak takjub melihat kecan-tikan dan kelembutan gadis itu.
“Mengapa Anda berada di hutan?” sang gadis balik bertanya ke-pada Prabu Gagak Ngampar. Gadis itu tidak tahu bahwa yang di ha-dapannya adalah Prabu Gagak Ngampar yang berburu dengan pa-kaian biasa.
“Saya sedang berburu, tetapi saya kehabisan perbekalan karena dicuri kawanan monyet tadi dan saya kelaparan.”
“Oh, begitu. Saya membawa bekal, tetapi hanya bekal nasi sayur seadanya. Kalau Anda berkenan, silakan ambillah!” tawar si gadis sambil menyodorkan bekalnya kepada Prabu Gagak Ngampar. Sang Prabu terkesima dengan kebaikan gadis itu.
“Kalau ini kumakan, lalu kamu makan apa?”
“Rumah saya tidak jauh dari hutan ini. Kalau lapar, saya dapat segera pulang dan makan di rumah. Silakan ambillah,” jawab si gadis. Prabu Gagak Ngampar pun menerima dan dengan lahap memakan perbekalan gadis itu.
“Terima kasih kamu sudah menolongku,” ujar Prabu Gagak Ngampar.
Kebaikan gadis desa tersebut menjadi awal perkenalan mereka. Selama perjalanan kembali ke Kerajaan Prabu Gagak Ngampar terkenang terus dengan kecantikan, kelembutan, dan kebaikan gadis itu. Ketika sampai di Kerajaan pun, ia terus melamun dan tersenyum mengingat gadis itu. Mamang Lengser terheran-heran. Ia bertanya dalam hati mengapa rajanya bersikap seperti itu. Tidak dapat me-nahan diri, ia pun bertanya kepada Raja.
“Wahai, anakku Prabu Gagak. Ada apakah gerangan mengapa sikapmu aneh seperti itu sejak pulang dari berburu?” tanya Mamang Lengser.

