Viral Baru-Baru ini, Kisah Lengkap Full Chapter Pengalaman Angker Mendaki Gunung Slamet Via Dukuh Liwung

foto saat pendakian gunung slamet via dukuh liwung
foto saat pendakian gunung slamet via dukuh liwung

Selepas melewati kebun karet, kembali kami menemui perkebunan warga, dan di sanalah kami menemui Pak Sakri untuk pertama kali nya. Pak Sakri seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, usianya mungkin kurang lebih 40 tahun, tubuhnya kurus namun berotot khas penduduk desa yang suka bekerja keras. Pekerjaan hari-hari beliau adalah berkebun, sama seperti penduduk lain desa ini.

Setelah berkenalan dan berbincang sebentar, kami menunggu Pak Sakri bersiap-siap. Pak Sakri sebenarnya bukan porter yang seharusnya menemani kami, tapi anak Mbah yang satunya yang mengantarkan kami bertemu Pak Sakri ini lah yang seharusnya menemani kami sampai Pos 2, namun karena satu dan lain hal, akhirnya Pak Sakri menggantikan posisinya.

***
Perjalanan dimulai kembali dengan Pak Sakri membuka pembatas kebun yang terbuat dari pagar bambu agar kami bisa melewati jalur pendakian ini. Dengan ini jelas mamastikan bahwa jalur ini bukan jalur pendakian umum biasa, namun hanya orang-orang tertentu yang tau keberadaan jalur ini saja yang melewatinya.

Awal memasuki jalur ini kami disambut oleh pohon-pohon besar nan tinggi dengan akar2 besar bergelantung di sana sini menjadi pemandangan alam yang asri namun kesan angker tak bisa dipungkiri. Jalur ini lebih terlihat seperti hutan rimba daripada jalur pendakian gunung pada umumnya. Jalan setapaknya sudah banyak tertutup pepohonan dan agak licin tanda jarang dilewati.

Namun karena hari masih sore dan matahari bersinar dengan cantiknya menembus celah-celah pepohonan yang kian gagah tertancap di setiap sudut hutan ini, tetap menyajikan pemandangan yang indah dimata kami.

Tidak terasa, sejuknya udara, indahnya pemandangan itu, mengantarkan kami yang tanpa sadar sudah sampai di Pos pertama jalur pendakian ini, ada sedikit tanah lapang di sana. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak menikmati segarnya udara dan sejuknya cuaca sore itu.

Disela-sela istirahat, Saya dan Widi menggunakan kesempatan itu untuk buang air kecil, seperti biasa kami pun mencari celah dibalik pepohonan, dan tidak lupa untuk bilang permisi karena bagaimanapun kami adalah tamu di tempat ini.

Setelah menemukan tempat yang pas, saya dan Widi berjaga bergantian. Saya lebih dulu baru Widi. Teman kami yang lain pun turut melakukan hal yang sama, istirahat sejenak sambil mencari celah pohon untuk buang air kecil. Panji salah satunya, awalnya tidak ada yang aneh dengan kegiatan kami, karena hal ini umum dilakukan para pendaki lain. Namun sungguh kami tidak pernah menyangka, istirahat pertama kami ini lah ternyata awal mula yang menyebabkan kejadian kejadian aneh nan mistis selama pendakian kami, dimulai…

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait