Kisah Kadipaten Penyarang Sidareja Cilacap

ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten
ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten

Bertahun-tahun Adipati Ranggasena dibantu putra-putranya serta penduduk Kadipaten Penyarang bekerja tidak kenal lelah. Sedikit demi sedikit pembangunan jalan diselesaikan dengan lancar. Keberhasilan itu membuat hati mereka lega. Pekerjaan yang mereka pikir mustahil dilakukan itu telah dirampungkannya. Meskipun belum terlihat benar-benar rapi, jalan yang menghubungkan Kadipaten Penyarang dan Pajajaran itu sudah dapat dilewati dengan nyaman.

Setiap daerah yang dilalui jalan itu diberi nama dengan sebutan ci oleh Adipati Ranggasena, seperti Cipari, Cikangleles, Cikalong, Cinangsi, Cibenda, dan Ciloning. Kata ci memiliki makna ‘sumber air’.

Penamaan dengan sebutan ci tersebut dimaksudkan agar daerah yang diberi nama dengan kata itu tidak pernah kehabisan air.Pembangunan kadipaten dan jalan telah selesai dijalankan. Dengan demikian, amanat Prabu Ciung Wanara telah dipenuhi oleh Adipati Ranggasena. Namun, Adipati Ranggasena tidak berkeinginan kembali ke Pajajaran. Ia memilih menetap dan menyatu dengan penduduk Kadipaten Penyarang. Hal itu sudah menjadi tekadnya ketika diangkat sebagai adipati.

Ia tidak akan meninggalkan dan akan tetap menjadi bagian Kadipaten Penyarang. Tekad itu dibuktikannya dengan tetap menjadi Adipati sampai usianya senja. Kekuatan manusia ada batasnya. Karena usianya yang semakin tua, Adipati Ranggasena merasa tidak mampu lagi menjadi adipati. Oleh karena itu, ia menyerahkan tampuk pimpinan Kadipaten Penyarang kepada putra bungsunya, yaitu Sena Reja atau Hajar Sena. Ia menjadi adipati kedua di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Anom Ranggasena.

Seperti halnya ayahnya, penobatan Adipati Anom Ranggasena pun dikukuhkan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Entah beberapa waktu lamanya, setelah menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya, Adipati Ranggasena meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal ia berpesan kepada istri, anak, dan semua penduduk Kadipaten Penyarang.

“Anak dan cucuku semua, jika waktuku tiba, aku harus meninggalkan kalian semua. Tapi, jika kalian minta apa saja kepadaku, aku sanggup.”

Setelah berpesan seperti itu, Adipati Ranggasena menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia lalu dimakamkan di wilayah Kadipaten

Penyarang yang disebut Cisagu. Kata cisagu berasal dari pesan Adipati Ranggasena yang “sanggup” memenuhi permintaan anak, cucu, dan penduduk semua. Kata sanggup dalam bahasa Jawa adalah saguh. Jadi, nama Cisagu berasal dari kata ci dan saguh. Selanjutnya, makam Adipati Ranggasena disebut Panembahan Cisagu. Sampai saat ini makam tersebut menjadi tempat ziarah yang terkenal dan banyak didatangi peziarah dari berbagai penjuru.

Diceritakan oleh: Suryo Handono

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait