Kisah Kadipaten Penyarang Sidareja Cilacap

ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten
ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten

Kemajuan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Lebih-lebih ketika Adipati Ranggasena memperkenalkan Kadipaten Pe nyarang ke Pusat Pemerintahan di Surakarta dan Pajajaran. Untuk membuktikan kemajuannya, Adipati Ranggasena mengirimkan kayu ke Pajajaran untuk membangun pendapa. Pada waktu itu belum ada kendaraan untuk mengangkut kayu dari Kadipaten Penyarang ke Pajajaran. Kayu-kayu itu dikirim dengan cara diseret menggunakan ikat pinggang oleh murid-murid Sunan Kalijaga. Hanya merekalah yang mampu melakukan karena memiliki kesaktian yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga.

Kerja sama yang dilakukan Adipati Ranggasena dengan Pemerintah Keraton Surakarta dan Pajajaran menjadikan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Segala penjuru sudah mengetahui tentang keberadaan Kadipaten Penyarang dan Adipati Ranggasena, tentang penduduknya yang telah mendapat tempat tinggal yang layak dan hidup tenteram, serta tentang kemampuan penduduk mengolah dan mengelola hutan dengan baik. Namun, masih ada amanat yang belum terselesaikan oleh Ranggasena, yaitu membangun jalan yang menghubungkan wilayah Surakarta dan Pajajaran. Hal itu berarti bahwa Adipati Ranggasena baru menyelesaikan separuh amanat ayah andanya.

Membangun jalan bukanlah pekerjaan yang mudah. Adipati Ranggasena merasa tidak mampu mengerjakan sendiri. Dahulu selalu dibantu oleh Kiai Ngabei Tangerang, tetapi sekarang harus mencari bantuan orang lain karena Kiai Ngabei Tangerang telah tiada. Ilmu yang diajarkannya pun belum cukup untuk membangun jalan yang menghubungkan Surakarta dan Pajajaran. Dalam hal inilah kesabaran dan ilmunya diuji. Ia harus mencari cara agar jalan dapat dibangun dengan baik dan lancar.

Ia terus memikirkan hal itu sampai-sampai tidak tidur beberapa hari. Pada suatu malam, tanpa sengaja Adipati Ranggasena tertidur. Ia bermimpi bertemu dengan Kiai Ngabei Tangerang.

“Ranggasena, tugas yang harus kamu jalankan memang berat. Tidak mudah membuat jalan. Namun, kamu tidak perlu putus asa. Semua pasti ada jalan. Ada ilmu yang dapat digunakan, tetapi harus memiliki kesabaran dan pemikiran yang suci. Putramu dapat membantu menyelesaikan tugas itu.”

Adipati Ranggasena terkejut lalu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mengingat-ingat pesan Kiai Ngabei Tangerang dalam mimpinya.

“Pesan Kiai akan saya lakukan. Mohon restu, Kiai,” gumannya.

Keseokan hari Adipati Ranggasena mulai menjalankan apa yang dipesankan Kiai Ngabei Tagerang dalam mimpinya. Ia mulai membangun jalan ke arah barat, yang akan menghubungkan Kadipaten Penyarang dengan Pajajaran. Setiap hari ia menjalankan tugas itu dengan sabar. Ia tidak pernah marah kepada siapa saja yang membantunya. Yang lebih penting, meskipun putranya ikut membantu, ia tetap harus ikut serta melakukan dan memimpin pelaksanaan tugas tersebut.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait