Kisah Kadipaten Penyarang Sidareja Cilacap

ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten
ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten

Orang-orang yang mendengarkan hasutan pengintai tadi lalu mencari cara dan siasat untuk menggagalkan rencana Ranggasena. Mereka berniat menghasut seluruh penduduk agar menolak usulan Ranggasena. Berbagai cara mereka lakukan dengan satu tujuan menggagalkan rencana Ranggasena. Jika perlu, ketika Ranggasena menyampaikan usulan rencananya rakyat sudah tahu dan semua menolaknya.

Saat yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba juga. Pada suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang mengumpulkan penduduk Penyayang. Mereka duduk berkumpul di pelataran depan rumah sang Kiai. Sementara itu, Kiai Ngabei Tangerang diapit oleh Tejalamat dan Megalamat berdiri menghadapi mereka.

“Sedulur-sedulur, saya sengaja mengumpulkan kalian karena ada sesuatu yang penting yang harus kita bicarakan.” kata Kiai Ngabei Tangerang membuka pembicaraan.

Penduduk yang hadir semua diam. Mereka menunggu dengan rasa penasaran, sebenarnya apa yang akan disampaikan oleh sesepuh mereka itu. Mata mereka menatap tanpa berkedip seakan takut kehilangan gerak sang Kiai.

Kiai Ngabei Tangerang kemudian melanjutkan ucapannya, “Beberapa waktu yang lalu Ranggasena menghadap padaku dan menyampaikan rencananya. Meskipun menyetujuinya, aku belum dapat mengiyakan sebelum berbicara dengan kalian.”

“Rencananya apa, Kiai?” tanya salah seorang penduduk.

“Biarlah Ranggasena sendiri yang mengatakan supaya lebih jelas.”

Ranggasena lalu mengemukakan apa yang menjadi maksud dan rencananya, yaitu mengembangkan Penyayang menjadi sebuah kadipaten. Mendengar ucapan Ranggasena semua penduduk menggangguk-angguk. Namun, tiba-tiba mereka berteriak-teriak tidak setuju. Mereka berdalih bahwa Ranggasena bukan penduduk asli. Mereka curiga Ranggasena hanya akan merusak tatanan yang selama ini sudah berjalan dengan baik.

Hari itu suasana semakin memanas. Meskipun Ranggasena menjelaskan bahwa tujuannya adalah memajukan Penyayang, penduduk masih tetap pada pemikirannya. Semakin lama teriakan demi teriakan terlontar semakin ramai dan tidak ditemukan kata sepakat. Bahkan, ada penduduk yang justru menantang Ranggasena untuk beradu kekuatan.

Kiai Ngabei Tangerang mencoba mendinginkan suasana yang panas dan mulai tidak terkendali itu. Namun, upayanya sia-sia. Penduduk belum mau menerima. Mereka lebih senang jika yang membangun kadipaten adalah Kiai Ngabei Tangerang sendiri.

“Ya, ya, aku paham maksud kalian. Namun, perlu juga kalian pahami, aku sudah tidak muda lagi. Aku sudah terlalu tua untuk memimpin pembangunan sebuah kadipaten. Oleh karena itu, perlu dicari pemimpin yang muda, pandai, dan tegas seperti Ranggasena.”

Mendengar ucapan Kiai Ngabei Tangerang semua penduduk terdiam seribu bahasa. Mulut mereka membisu bagai terkunci. Mereka merasakan ucapan tulus itu keluar dari orang yang selama ini mereka hormati. Apalagi ketika sang Kiai menegaskan bahwa dia juga akan turut mewujudkan kadipaten itu, penduduk semakin yakin bahwa ucapan itu benar. Mereka semakin terbuka pikirannya.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait