Mengenal Tarian Sufi Maha Karya Rumi

by
Indonesia

Kain yang merumbai, ketika mereka berputar bak jamur raksasa yang memancar cahaya putih penuh dengan pesan simbolik. Dan pesan dari warna simbolik itu dapat digunakan sebagai bentuk penggambaran tentang keriangan rohani dari jiwa yang kerinduannya kepada yang Satu telah terpuaskan.

Sekitar tigapuluh menit itu, para penari tak lelah berputar dan akhirnya mereka terjatuh. Satu orang penari masih berbaring sendirian, sementara kedua penari yang lain telah beranjak bergabung dengan jemaah yang melingkar itu.Sesosok tubuh penari yang terbalut kain putih itu tengah bersujud ke arah sang guru, menirukan salah satu gaya yoga.

Ia bersujud dengan punggung rata bagaikan sebilah anak panah yang terentang dalam busur. Ia diam selama beberapa menit, barangkali sedang bermeditasi, barangkali sedang menyatukan detak jantungnya dengan degup jiwa semesta.

Musik dengan bunyi-bunyian yang minim mengalun lembut, mengajak khalayak untuk membayangkan bunyi-bunyian itu sebagai suara tangis dan gumam sedih, apalagi dibarengi dengan lafadz dzikir yang menghiba-hiba memanggil asma-Nya semata. Beberapa saat kemudian ia bergerak, menggeliat pelan dan pertunjukan berakhir.

Bentuk tarian sufi sesungguhnnya merupakan khasanah peradaban Islam yang tiada taranya di Persia pada beberapa abad yang lampau. Kini, tarian sufi sudah sangat jarang dilakukan oleh sebagian golongan tarekat di Indonesia.

Salah satu thariqat yang mengajarkan muridnya tarian sufi, yakni thariqat Naqsabandiyah Haqqaniyah yang bermursyid Syekh Hisyam Kabbani Al Haqqani.

Padahal, kalau melacak dari kitab Sufi Matsnawi karya Syekh Jalaludin Rumi, kita akan mendapat beragam pesan yang ingin disampaikan dari tarian sufi itu. Dimana pesan itu secara parsial disusun sebagai jawaban terhadap lingkungan di mana ia bekerja.Rumi, menciptakan tarian dan gerakan-gerakan memutar di kalangan para muridnya.

Komentar